Sabtu, 30 Oktober 2010

Build me a son

Doa untuk Putraku
Tuhanku…
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang cukup kuat untuk mengetahui kelemahannya.
Dan, berani menghadapi dirinya sendiri saat dalam ketakutan.
Manusia yang bangga dan tabah dalam kekalahan.
Tetap Jujur dan rendah hati dalam kemenangan.
Bentuklah puteraku menjadi manusia yang berhasrat mewujudkan cita-citanya
dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja.
Seorang Putera yang sadar bahwa
mengenal Engkau dan dirinya sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan.
Tuhanku…
Aku mohon, janganlah pimpin puteraku di jalan yang mudah dan lunak.
Namun, tuntunlah dia di jalan yang penuh hambatan dan godaan, kesulitan dan tantangan.
Biarkan puteraku belajar untuk tetap berdiri di tengah badai dan senantiasa belajar
untuk mengasihi mereka yang tidak berdaya.
Ajarilah dia berhati tulus dan bercita-cita tinggi,
sanggup memimpin dirinya sendiri,
sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain.
Berikanlah hamba seorang putra
yang mengerti makna tawa ceria
tanpa melupakan makna tangis duka.
Putera yang berhasrat
Untuk menggapai masa depan yang cerah
namun tak pernah melupakan masa lampau.
Dan, setelah semua menjadi miliknya…
Berikan dia cukup Kejenakaan
sehingga ia dapat bersikap sungguh-sungguh
namun tetap mampu menikmati hidupnya.
Tuhanku… 
Berilah ia kerendahan hati…
Agar ia ingat akan kesederhanaan dan keagungan yang hakiki…
Pada sumber kearifan, kelemahlembutan, dan kekuatan yang sempurna…
Dan, pada akhirnya bila semua itu terwujud,
hamba, ayahnya, dengan berani berkata “hidupku tidaklah sia-sia”

Jumat, 15 Oktober 2010

Sisi Gelap Kehidupan tentang pertengkaran

Dasar! kamu memang anaknya penjudi, pantes aja nggak beda jauh ama ayahnya.”
Cacian itu terus menghujaniku. Kala itu, aku berusia delapan tahun. Aku seorang anak tunggal yang tinggal di daerah yang masih jarang penduduknya.
Aku hanya bisa berlari menuju sungai di belakang rumah. Ku tatap berkas wajahku yang terpantul samar – samar dari kejernihan air sungai. Berkali – kali ku berwudlu, mengusap wajahku dengan air. Ku harap kesalahan ayahku itu tidak sampai ada padaku.
” Apa benar kata orang – orang, kalau ayahnya penjudi, pasti anaknya juga penjudi? Mengapa semua orang mengejekku? Yang berbuat ayah kok aku yang disalahin?”
Ku lempar satu per satu batu yang ada di sampingku ke dasar sungai. Aku merenungkan nasib yang tak mau kualami. Tak lama tersirat bayangan pertengkaran antara ayah dan ibu. Aku bangkit dari kepasrahanku dan mengambil langkah menuju rumah.
Kira – kira  20 meter dari rumah, terdengar kejadian yang selalu menghantui. Hanya ada pertengkaran di setiap kehidupanku waktu itu.
” Nggak bosen mereka bertengkar terus?” kata – kata itu sempat membuatku jengkel. Aku menggerutu dalam hati. Setiap suara itu terdengar hatiku terkoyak, dicabik – cabik oleh rasa marah dan kesal. Meski hatiku ini sudah tak berbentuk, namun apa daya. Aku hanyalah seorang anak kecil yang tak bisa berbuat apa – apa dan belum bisa berbuat apa – apa. Aku bukan seperti penyihir di negri dongeng atau peri yang dapat menyulap dan merubah semua yang ada menjadi indahnya surga. Aku hanya bisa meminta pertolongan dan kemurahan hati Sang Penciptaku, yang menciptakan serpihan tubuhku ini.
Aku berlari menuju pintu rumahnya. Ku paksakan diri untuk berlari. meskipun dadaku mulai sesak dan napasku tersengal – sengal, aku ingin melihat mereka. Jannah, ibuku, terdengar meronta – ronta seperti harimau yang sedang kalap melihat ayahku mengobrak – abrik seluruh isi rumahnya. Segera ku ambil posisi di tepi daun  pintu. Terlihat botol alkohol itu terlepas dari genggaman ayahku.
PRAANG!!


Suara pecahan botol itu mengawali pertengkaran itu. Bagiku, suara pecahan botol itu bagai genderang sebelum terjadinya pertandingan di televisi yang tidak kalah seru. Kepalaku rasanya juga seperti botol itu, pecah berkeping – keping, berserakan di tanah, terkena kotoran dan debu, dan berceceran dimana – mana. Hancurnya suasana di dalam rumah, serta barang – barang yang tergeletak di lantai menggambarkan suasana hatiku yang sedang risau.
” Sudah aku bilang berkali – kali,  tolong jangan menjual isi rumah ini hanya untuk berfoya – foya dan membeli minuman yang nggak baik itu! Kalau kamu nggak kerja, aku dan anak kita mau diberi makan apa? Pasir di sungai? Kau tega? Suami apa macam kau?.”
Jono, ayahku menghampiri ibu dengan membelalakkan matanya yang merah dan berair akibat telah mencandu rokok. Langkahnya sempoyongan dan bau alkohol yang menyengat menyertai setiap gerak langkahnya. Dia berpijak di tanah yang labil, bisa dibilang lumpur yang hina. Aku muak dengannya, meski golongan darahku sama dengan golongan darah ayah.
” Kenapa?? Kamu nggak suka aku begini? He??.”
Ibu terdiam. Air matanya perlahan membasahi pipi ibunya yang merona. Ayahku langsung menuju ke ruang keluarga, tak tahu apa yang akan dia lakukan. Debaran jantung ini menajamkan mataku di sudut sana, di ruang keluarga. Tak lama, ayah muncul dengan sebuah televisi di tangannya. Mata ibu melotot dengan sigap langsung berlari ke tempat ayah berada dan  menahannya.
” Kau mau jual TV itu?.”
” Nggak usah ikut campur, ini urusanku.”
Wanita itu bersimpuh di depannya. Tangannya menggenggam erat tangan ayah yang sedang kehilangan akal itu. Cengkraman elang berusaha menahan ayah yang gila itu.
“ Kalau kau terus begini, kita takkan punya apa – apa lagi! Itu satu – satunya benda yang berharga disini! Lagi pula uang buat beli TV hitam putih itu berasal dari jerih payahku selama bekerja di sawah. Tapi kau malah akan menjual semuanya,”
” Minggir, jangan sekali – kali coba menghalangiku!.” Suaranya terdengar lantang. Kaki pemabuk itu menendangi ibu yang sedang memohon dengan amat bertubi – tubi sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya darinya. Tendangan kaki yang terakhir sangat keras, membuat ibu kesakitan. Cengkraman elang tak sekuat raungan harimau. Tangan ibu perlahan terlepas. Usaha untuk menahan ayah pupus sudah. Ia menagis pahit. Menahan air liur saja tak sanggup. Matanya yang bengkak melirik ke arah kepegian ayah dengan dingin.
Ayahku tidak menghiraukan keberadaanku yang sedang berdiri di ambang pintu. Ketika ayah akan melewatiku, aku berusaha menahannya. Ku rangkul kaki orang yang seharusnya aku harus berbakti kepadanya. Pemabuk itu sekali lagi menendangku. Aku tersungkur. Ayahku sangat dingin, bukan seperti sosok yang aku kenal dulu. Tak tau apa aku belum mengenalnya dengan baik, tapi yang jelas dia telah menghancurkan semuanya, melukai ibuku, dan begitu tega terhadapku.
Orang tua macam apa kau, yah? Sehingga tega menendangku dan ibuku tanpa belas kasihan,” Hatiku meronta – ronta, membuat jantung dan paru – paru sulit untuk memompa darah dan mengambil udara. Ku tatap wajah pemabuk itu dengan penuh kebencian. Ayah tertawa terkekeh – kekeh sambil berjalan sempoyongan keluar rumah.
Aku menghampiri ibuku. Pandangan ibu tiba - tiba beralih ke tubuhku yang amat mungil. Aku berusaha menghapus air mata wanita itu. Ibu memelukku sangat erat.
” Bu, mengapa ujian dari Allah begitu berat? Apa sih tujuan – Nya membuat karangan hidup kita seperti ini?.”
” Itu agar kita tidak lupa kepada – Nya. Yang sabar ya, Nak?.”
Diam sejenak.
” Andi tadi kemana aja?.” Sambil mengalihkan pembicaraan.
” Habis main di sungai. Yuk Bu, ke sana.”
” Sambil cari ikan ya, Nak? Buat makan kita nanti malam!.”
” Iya Bu, aku paling suka main ke sungai.” Aku bertepuk tangan kegirangan.
” Tapi jangan lupa bawa jala, ya?.” Jari telunjuk ibu menyentuh hidungku yang kecil. Geli rasanya, seakan – akan menghapus luka yang bertumpuk tumpuk dan mulai menggoreskan kebahagiaan. Aku mulai melukiskan senyum di wajahku. Ibu larut dalam tawaku. Kami terhipnotis oleh sepercik hiburan, aku tidak mau memikirkan ayah lagi. Ayah sudah jahat, ayah sudah meninggalkanku. Tak lagi menyayangiku dan mengajakku bermain dan jalan – jalan mengelilingi desa. Tangan mungilku meraih tangan kanan ibu. Ibu mengembangkan senyum kepadaku.
Disana, aku menggoreskan tulisan kehidupanku dengan berbekal ranting di pinggir sungai. Seingatku, tulisan itu kugoreskan dengan tangan kiri, melambangkan bahwa yang ku tulis adalah kejadian buruk.
Aduhai oh aduhai
Ayah mabuk, mukaku mengkerut
Ibu sedih, tubuhku layu
Akankah kerikil di jalan yang kutempuh ini hilang tak berbekas?
Atau bahkan semakin besar?
Entahlah.,
Meskipun hujan disertai badai memporak – porandakan kulit bumi,
Kan kujadikan setetes air itu sumber kehidupan
Dan badai itu sebagai angin segar pembawa keceriaan
Tuk seluruh makhluk alam semesta
Semoga.
Kekesalanku muncul kala goresan itu tiba - tiba lenyap tersapu gelombang sungai. Aku membanting ranting itu ke tanah. Ranting itu pun jatuh ke tanah dan akhirnya ikut terbawa arus. Teriakan ibu terdengar untuk mengajakku pulang. Yang semula kesal, kini aku dapat mengembangkan senyum di wajahku selebar – lebarnya untuk kedua kalinya.
Wanita itu menangkap beberapa ekor ikan dan diletakkan ke dalam timba berisi air. Ku raih pegangan timba itu. Aku berusaha mengangkatnya untuk ku bawa ke rumah meski dengan tertatih – tatih. Kehidupan memanglah pahit. Kopi rasanya memang pahit, namun apabila dicampur dengan gula lalu disiramkan air panas untuk melarutkan kedunya, niscaya rasa pahitpun akan berganti menjadi rasa manis dan rasa yang enak.

Selasa, 28 September 2010

bisnis internet

Bukan BlackPad tapi BlackBerry Playbook

Tablet Playbook berlayar 7 inci, lebih kecil dari iPad buatan Apple dengan sistem operasi buatan QNX Software System yang diakusisi RIM pada awal tahun. Tidak seperti iPad yang tak memiliki kamera, Playbook memiliki dua kamera di depan dan di belakang. Perangkat ini akan dirilis pada April 2011. Namun, RIM belum mengungkap harganya, hanya menyatakan akan dijual dengan kisaran harga yang bersaing dengan iPad.

Tak ada koneksi seluler di perangkat ini, namun ada WiFi untuk mengakses internet. Meski tak bisa untuk menelepon, tablet ini bisa dihubungkan secara nirkabel melalui perangkat BlackBerry melalui koneksi WiFi sebagai layar kedua yang lebih lebar sehingga pengguan dapat melihat aktivitasnya saat menelepon. WiFi juga bisa digunakan untuk mengakses layanan seluler lewat BlackBerry.

Co-CEO RIM Jim Balsillie menyatakan perangkat tersebut dirancang sebagai produk standalone untuk memberikan pengalaman akses web secara sempurna. RIM tidak menerapkan pendekatan aplikasi untuk mengakses berbagai layanan berbasis web termasuk Flash dengan perangkat PlayBook ini. "Artinya perangkat itu tak akan tergantung pada aplikasi pihak ketiga atau app," ujar Balsillie.

PlayBook tidak dirancang sebagai perangkat konsumer yang akan dijual secara ritel. RIM bakal memposisikan produk tersebut sebagai perangkat untuk kalangan enterprise untuk kebutuhan bisnis. Sebelumnya, Cisco juga merilis tablet untuk enterprise yang diberi nama Cius.

IT yang menyenangkan

Dunia IT,,semenjak aku masuk dan belajar tentang IT aku merasa senang karna aku mendapatkan banyak ilmu..Jujur saja sebelum aku kuliah aku tidak tahu yang namanya dunia internet bahkan masuk ke warnet pun ga pernah..beruntung aku bisa mengenal It karna akses yang aku dapatkan sangat beruntung..dari mencari pekerjaan mpe mendapatkan teman lebih banyak lagi.. Lanjutkan membaca

insident pertadingan

“Bonek” Indonesia : Kurang lebihnya Mohon Dimaafkan

28 Jan
Kalau ada yang bertanya siapa penggemar sepakbola yang paling gila dan fanatic di dunia, mungkin Cuma dua jawabannya bonek dan holigan. Bedanya adalah holigan adalah fanatisme berlebihan rakyat inggris pada klub sepakbola negaranya. Sedangkan bonek adalah “penuhanan” klub lokal bernama persebaya yang begitu gila.
Menengok kepada fans paling fanatisme bernama bonek maka fans ini adalah kumpulan manusia yang paling di hujat di indonesia. Sering membuat ulah, membuat onar, memprovokasi kerusuhan, mengancam ketertiban, semua di nisbatkan kepada ribuan pendukung bonek mania dari jawa timur. Tengok saja saking kesalnya masyarakat kepada bonek mania ketika pertandingan persebaya melawan persib beberapa hari yang lalu, ribuan masyarakat solo tumpah ruah dengan bom molotov, batu, kerikil untuk menghadang arus bonek”yang katanya” sangat meresahkan dan mengganggu masyarakat solo dan sekitarnya. Ketika ribuan bonek yang baru saja melawat ke bandung untuk menonton tim kesayangannya melewati kota solo, ribuan batu dengan berbagai macam ukuran serta bom molotov berseliweran menghantam kereta api pasundan.
Tidak hanya itu, selain bersitegang dan tidak akrab dengan masyarakat di tempat lain, bonek juga bahkan tidak akur dengan kawan sedaerah yaitu aremania malang. Kisah tidak akurnya pendukung persebaya dan arema malang memang bukan cerita baru namun sudah lama. Entah darimana cerita tidak beresnya hubungan ini dimulai namun sampai sekarang ketidakwajaran ini masih terlihat. Coba tengok berita yang dimuat oleh detiksport.com tentang bonek.
“PSSI membentuk tim investigasi terkait kerusuhan yang dilakukan Bonek. Tim ini diberi waktu dua minggu untuk mengusut tuntas tingkah polah fans Persebaya tersebut saat laga tandang lawan Persib di Bandung.
Itulah hasil rapat Komite Eksekutif yang dilakukan Senin (25/1/2010) malam WIB. Tim investigasi tersebut terdiri dari lima orang yang diketuai Rusdi Taher, dengan wakil M.Zein, sekretaris Mafirion dan dua anggota, Rafli Razak dan Ashar Suryobroto.
“Tim tersebut akan diberi waktu dua minggu dari sekarang untuk mengusut kasus ini,” ungkap Ketua Umum PSSI Nurdin Halid kepada wartawan di Kantor PSSI, Senayan.
Setidaknya ada empat hal penting yang akan dibahas dan ditelaah oleh tim investigasi itu. Yang pertama adalah kenapa Bonek bisa berangkat ke Bandung padahal ada hukuman.

Kedua, seberapa jauh komunikasi antara klub, dalam hal ini Persebaya, dengan suporternya. Ketiga, juga akan dibahas mengapa Bonek selalu berulah. Selain itu, turut dianalisa mengenai penyebab tindak kekerasan terkait Bonek, apakah Bonek memulainya atau sekadar bereaksi saja.
Soal sanksi yang akan diberikan, Nurdin menjelaskan kalau hal tersebut akan diputuskan setelah tim melakukan investigasi Jakarta-Surabaya-Jakarta.

Sebelumnya Persebaya dikenakan sanski tak boleh didampingi suporter selama dua tahun. Namun, saat Bajul Ijo hendak bertandang ke Persib Bandung, Bonek tetap berangkat dan malah membuat rusuh.
Tidak ada yang salah dari bonek, sebuah kefanatikan menurut saya merupakan sebuah usaha untuk memberikan sesuatu yang terbaik pada sesuatu yang dicintainya. Namun banyak hal mungkin yang belum dilakukan misalnya pembinaan secara berkelanjutan. Sebaiknya klub tidak hanya memikirkan bagaimana merekrut pemain, membangun stadion tapi bagaimana membentuk mental “pemain kedua belas” di lapangan menjadi jiwa jiwa fanatik tetai tetap memperhatikan nilai-nilai sosila kemasyrakatan.
Tidak rindukah kita dengan suasana stadion yang nyaman, pertandingan yang mengesankan. Bisa membawa keluarga, pacar atau bahkan anak-anak kita ke dalam stadion. Bisa ketawa tanpa harus berpikir ada yang timpuk-timpukan di belakang kita. Bagaimana mungkin kita berharap untuk bisa menjadi tuan rumah piala dunia 2022 kalau pekerjaan rumah saja tidak bisa kita selesaikan dengan baik. Bisa-bisa inggris lawan indonesia, terus indonesia di bantai 1000 – , indonesia jadi lautan api
Tapi apakah ini semua kesalahan suporter dalam hal ini bonek. Perlu kita ingat bahwa sebenarnya banyak bonek di indonesia. Ada “bonek” jakarta, bandung, jayapura dan semua juga pernah dan sering melakukan tindakan anarkis. PSSI harus berbenah, bukan hanya ngomong, membentuk komisi untuk investigasi. PSSI sebagai sebuah induk olahraga harus mulai berpikir banyak ketidakberesan yang terjadi di tubuh PSSi sehingga perlu banyak perbaikan. Mulai dari ketidakwarasan wasit yang memang banyak dituding sebagai biang keladi sebuah kekalahan dari tim. Prasangka ini banyak yang salah namun banyak juga yang betul. Namun banyakan betulnya, artinya kasus suap di antara tim tuan rumah dan wasit…Hmmmmh, kurang kali ya wasitnya di gaji???(hehehehhehehe).
Artinya apa, jangan pernah salahkan bonek baik yang berbaju hijau itu, atau yang berbaju orange, merah, kuning, merah garis hitam. Tapi setidaknya PSSI sendiri mulai berbenah biar persepakbolaan indonesia bisa maju. tengok saja kekalahan indonesia hampir di semua even sepakbola, tengok saja ketidaksiapan PSSI dalam mengelola liga indonesia dan copa indonesia…makanya jangan salah kalo pendukung berulah dan jangan salahkan sponsor yang kemudian melarikan diri.
Hidup “Bonek-bonek indonesia”, baik yang berbaju hijau, merah, kuning, orange atau apalah…dan hidup pesepakbolaan indonesia di masa mendatang.