“ Dasar! kamu memang anaknya penjudi, pantes aja nggak beda jauh ama ayahnya.”
Cacian itu terus menghujaniku. Kala itu, aku berusia delapan tahun. Aku seorang anak tunggal yang tinggal di daerah yang masih jarang penduduknya.
Aku hanya bisa berlari menuju sungai di belakang rumah. Ku tatap berkas wajahku yang terpantul samar – samar dari kejernihan air sungai. Berkali – kali ku berwudlu, mengusap wajahku dengan air. Ku harap kesalahan ayahku itu tidak sampai ada padaku.
” Apa benar kata orang – orang, kalau ayahnya penjudi, pasti anaknya juga penjudi? Mengapa semua orang mengejekku? Yang berbuat ayah kok aku yang disalahin?”
Ku lempar satu per satu batu yang ada di sampingku ke dasar sungai. Aku merenungkan nasib yang tak mau kualami. Tak lama tersirat bayangan pertengkaran antara ayah dan ibu. Aku bangkit dari kepasrahanku dan mengambil langkah menuju rumah.
Kira – kira 20 meter dari rumah, terdengar kejadian yang selalu menghantui. Hanya ada pertengkaran di setiap kehidupanku waktu itu.
” Nggak bosen mereka bertengkar terus?” kata – kata itu sempat membuatku jengkel. Aku menggerutu dalam hati. Setiap suara itu terdengar hatiku terkoyak, dicabik – cabik oleh rasa marah dan kesal. Meski hatiku ini sudah tak berbentuk, namun apa daya. Aku hanyalah seorang anak kecil yang tak bisa berbuat apa – apa dan belum bisa berbuat apa – apa. Aku bukan seperti penyihir di negri dongeng atau peri yang dapat menyulap dan merubah semua yang ada menjadi indahnya surga. Aku hanya bisa meminta pertolongan dan kemurahan hati Sang Penciptaku, yang menciptakan serpihan tubuhku ini.
Aku berlari menuju pintu rumahnya. Ku paksakan diri untuk berlari. meskipun dadaku mulai sesak dan napasku tersengal – sengal, aku ingin melihat mereka. Jannah, ibuku, terdengar meronta – ronta seperti harimau yang sedang kalap melihat ayahku mengobrak – abrik seluruh isi rumahnya. Segera ku ambil posisi di tepi daun pintu. Terlihat botol alkohol itu terlepas dari genggaman ayahku.
PRAANG!!
Suara pecahan botol itu mengawali pertengkaran itu. Bagiku, suara pecahan botol itu bagai genderang sebelum terjadinya pertandingan di televisi yang tidak kalah seru. Kepalaku rasanya juga seperti botol itu, pecah berkeping – keping, berserakan di tanah, terkena kotoran dan debu, dan berceceran dimana – mana. Hancurnya suasana di dalam rumah, serta barang – barang yang tergeletak di lantai menggambarkan suasana hatiku yang sedang risau.
” Sudah aku bilang berkali – kali, tolong jangan menjual isi rumah ini hanya untuk berfoya – foya dan membeli minuman yang nggak baik itu! Kalau kamu nggak kerja, aku dan anak kita mau diberi makan apa? Pasir di sungai? Kau tega? Suami apa macam kau?.”
Jono, ayahku menghampiri ibu dengan membelalakkan matanya yang merah dan berair akibat telah mencandu rokok. Langkahnya sempoyongan dan bau alkohol yang menyengat menyertai setiap gerak langkahnya. Dia berpijak di tanah yang labil, bisa dibilang lumpur yang hina. Aku muak dengannya, meski golongan darahku sama dengan golongan darah ayah.
” Kenapa?? Kamu nggak suka aku begini? He??.”
Ibu terdiam. Air matanya perlahan membasahi pipi ibunya yang merona. Ayahku langsung menuju ke ruang keluarga, tak tahu apa yang akan dia lakukan. Debaran jantung ini menajamkan mataku di sudut sana, di ruang keluarga. Tak lama, ayah muncul dengan sebuah televisi di tangannya. Mata ibu melotot dengan sigap langsung berlari ke tempat ayah berada dan menahannya.
” Kau mau jual TV itu?.”
” Nggak usah ikut campur, ini urusanku.”
Wanita itu bersimpuh di depannya. Tangannya menggenggam erat tangan ayah yang sedang kehilangan akal itu. Cengkraman elang berusaha menahan ayah yang gila itu.
“ Kalau kau terus begini, kita takkan punya apa – apa lagi! Itu satu – satunya benda yang berharga disini! Lagi pula uang buat beli TV hitam putih itu berasal dari jerih payahku selama bekerja di sawah. Tapi kau malah akan menjual semuanya,”
” Minggir, jangan sekali – kali coba menghalangiku!.” Suaranya terdengar lantang. Kaki pemabuk itu menendangi ibu yang sedang memohon dengan amat bertubi – tubi sambil berusaha melepaskan genggaman tangannya darinya. Tendangan kaki yang terakhir sangat keras, membuat ibu kesakitan. Cengkraman elang tak sekuat raungan harimau. Tangan ibu perlahan terlepas. Usaha untuk menahan ayah pupus sudah. Ia menagis pahit. Menahan air liur saja tak sanggup. Matanya yang bengkak melirik ke arah kepegian ayah dengan dingin.
Ayahku tidak menghiraukan keberadaanku yang sedang berdiri di ambang pintu. Ketika ayah akan melewatiku, aku berusaha menahannya. Ku rangkul kaki orang yang seharusnya aku harus berbakti kepadanya. Pemabuk itu sekali lagi menendangku. Aku tersungkur. Ayahku sangat dingin, bukan seperti sosok yang aku kenal dulu. Tak tau apa aku belum mengenalnya dengan baik, tapi yang jelas dia telah menghancurkan semuanya, melukai ibuku, dan begitu tega terhadapku.
” Orang tua macam apa kau, yah? Sehingga tega menendangku dan ibuku tanpa belas kasihan,” Hatiku meronta – ronta, membuat jantung dan paru – paru sulit untuk memompa darah dan mengambil udara. Ku tatap wajah pemabuk itu dengan penuh kebencian. Ayah tertawa terkekeh – kekeh sambil berjalan sempoyongan keluar rumah.
Aku menghampiri ibuku. Pandangan ibu tiba - tiba beralih ke tubuhku yang amat mungil. Aku berusaha menghapus air mata wanita itu. Ibu memelukku sangat erat.
” Bu, mengapa ujian dari Allah begitu berat? Apa sih tujuan – Nya membuat karangan hidup kita seperti ini?.”
” Itu agar kita tidak lupa kepada – Nya. Yang sabar ya, Nak?.”
Diam sejenak.
” Andi tadi kemana aja?.” Sambil mengalihkan pembicaraan.
” Habis main di sungai. Yuk Bu, ke sana.”
” Sambil cari ikan ya, Nak? Buat makan kita nanti malam!.”
” Iya Bu, aku paling suka main ke sungai.” Aku bertepuk tangan kegirangan.
” Tapi jangan lupa bawa jala, ya?.” Jari telunjuk ibu menyentuh hidungku yang kecil. Geli rasanya, seakan – akan menghapus luka yang bertumpuk tumpuk dan mulai menggoreskan kebahagiaan. Aku mulai melukiskan senyum di wajahku. Ibu larut dalam tawaku. Kami terhipnotis oleh sepercik hiburan, aku tidak mau memikirkan ayah lagi. Ayah sudah jahat, ayah sudah meninggalkanku. Tak lagi menyayangiku dan mengajakku bermain dan jalan – jalan mengelilingi desa. Tangan mungilku meraih tangan kanan ibu. Ibu mengembangkan senyum kepadaku.
Disana, aku menggoreskan tulisan kehidupanku dengan berbekal ranting di pinggir sungai. Seingatku, tulisan itu kugoreskan dengan tangan kiri, melambangkan bahwa yang ku tulis adalah kejadian buruk.
Aduhai oh aduhai
Ayah mabuk, mukaku mengkerut
Ibu sedih, tubuhku layu
Akankah kerikil di jalan yang kutempuh ini hilang tak berbekas?
Atau bahkan semakin besar?
Entahlah.,
Meskipun hujan disertai badai memporak – porandakan kulit bumi,
Kan kujadikan setetes air itu sumber kehidupan
Dan badai itu sebagai angin segar pembawa keceriaan
Tuk seluruh makhluk alam semesta
Semoga.
Kekesalanku muncul kala goresan itu tiba - tiba lenyap tersapu gelombang sungai. Aku membanting ranting itu ke tanah. Ranting itu pun jatuh ke tanah dan akhirnya ikut terbawa arus. Teriakan ibu terdengar untuk mengajakku pulang. Yang semula kesal, kini aku dapat mengembangkan senyum di wajahku selebar – lebarnya untuk kedua kalinya.
Wanita itu menangkap beberapa ekor ikan dan diletakkan ke dalam timba berisi air. Ku raih pegangan timba itu. Aku berusaha mengangkatnya untuk ku bawa ke rumah meski dengan tertatih – tatih. Kehidupan memanglah pahit. Kopi rasanya memang pahit, namun apabila dicampur dengan gula lalu disiramkan air panas untuk melarutkan kedunya, niscaya rasa pahitpun akan berganti menjadi rasa manis dan rasa yang enak.